BERITA & ACARA

Kesalahan Umum dalam Mengajarkan Anak Sopan Santun

Apr 24, 2026

Cara mengajarkan anak sopan santun tak cukup hanya sebatas teoritis belaka — perlu aksi nyata dari orang tua yang dapat anak saksikan langsung dari lingkungan terdekatnya. Sebab nasihat verbal kadang kali tidak seefektif nasihat dalam bentuk visual. Ketika Anda menasihati, anak mungkin mendengar atau bahkan menyimak perkataan Anda dengan sungguh-sungguh — tetapi belum tentu akan patuh pada nasihat tersebut.

Sebaliknya, ketika Anda memberi contoh tentang budi pekerti dalam bentuk aksi, apa yang anak lihat dari Anda akan lebih mudah melekat dalam ingatannya dan ia pun akan lebih mudah meneladaninya.

Ketika Sopan Santun Mulai Luntur dari Generasi Muda

Mungkin sebagian besar orang tua setuju bahwa perilaku anak zaman sekarang mengalami kemerosotan. Ini dapat dibuktikan lewat maraknya kasus perundungan sesama teman, murid berani membentak guru, bahkan yang lebih miris lagi anak berani melakukan kekerasan fisik pada orang tuanya sendiri.

Mengapa kemerosotan sikap sopan santun tersebut bisa terjadi? Dalam hal ini, anak bukan satu-satunya pihak yang harus dipersalahkan. Barangkali cara mengajarkan anak sopan santun yang orang tua terapkan belum tepat. Alih-alih berhasil, yang terjadi justru menimbulkan akibat fatal pada perilaku anak itu sendiri.

Mari pahami beberapa contoh cara mendidik sopan santun yang tidak tepat beserta akibatnya.

Bersuara Tinggi Tidak pada Tempat dan Kondisi yang Tepat

Salah satu contoh sopan santun yang kerap orang tua ajarkan sejak dini adalah menjaga volume suara. Berbicara dengan nada tinggi identik dengan marah — itulah mengapa orang tua mengajarkan anak agar tidak berbicara dengan nada keras atau berteriak-teriak.

Sayangnya, tidak sedikit orang tua atau orang dewasa lainnya di lingkungan terdekat anak yang melanggar aturan itu sendiri. Bahkan di luar konteks sedang marah sekalipun, tak jarang orang dewasa mengobrol dengan nada keras di tempat umum.

Akibatnya, anak meragukan kebenaran petuah orang tuanya tentang aturan berbicara. Anak akan beranggapan bahwa kebiasaan orang dewasa tersebut adalah sesuatu yang benar dan boleh ditiru.

Melarang Bertengkar, tetapi Orang Tua Saling Bertengkar di Depan Anak

Menahan diri untuk tidak bertengkar juga bagian dari ilmu sopan santun. Seringkali orang tua mengingatkan anak-anaknya untuk tidak bertengkar atau menghindari perselisihan dengan siapa pun, terutama dengan saudara sendiri.

Nasihat ini akan terdengar luhur sekali bagi anak yang tidak pernah melihat orang tuanya bertengkar hebat. Tetapi tidak bagi anak-anak yang sejak kecil kenyang menyaksikan pertengkaran ayah dan ibunya sendiri.

Siapa sangka jika “tontonan” itu meninggalkan luka traumatis yang diam-diam mereka pendam. Bukan tidak mungkin sewaktu-waktu mereka lakukan juga pada orang lain — termasuk menjadikan orang tua sebagai lawan untuk bertengkar pula.

Mudah Menghakimi ketika Anak Berani Berkata Jujur

Semua orang tua pasti mendidik anaknya agar berani berkata jujur, karena berbohong bukan bagian dari budi pekerti yang baik. Tetapi cara mengajarkan anak sopan santun ini menjadi tidak efektif apabila orang tua tidak siap menerima kejujuran anak.

Kerap kali ketika anak mengungkapkan suatu kejujuran, orang tua malah dengan cepat menghakiminya. Padahal, berkata jujur tidaklah mudah. Anak harus mempersiapkan mentalnya terlebih dahulu untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi setelahnya. Namun usaha anak menjadi sia-sia tatkala orang tua terlalu cepat menghakimi tanpa mau mendalami masalah yang terjadi.

Akibatnya tentu saja fatal. Anak akan menganggap jujur bukanlah solusi — jujur hanya akan membuatnya terjebak pada masalah yang lebih buruk. Maka anak akan lebih memilih berbohong ketimbang berkata jujur.

Menuntut, tetapi Lupa Berterima Kasih

Bentuk perilaku sopan santun lainnya adalah senantiasa berterima kasih atas kebaikan yang diterima. Teorinya memang mudah — bahkan sejak dini anak sudah diajarkan mengucapkan terima kasih.

Namun pada praktiknya, banyak orang tua yang lupa atau sungkan mengucapkan terima kasih kepada anak atas hal-hal baik yang telah mereka lakukan. Misalnya, orang tua menyuruh anak mengambilkan segelas air minum, tetapi sesudahnya tidak mengucapkan terima kasih — baik karena lupa, gengsi, atau menganggap itu sudah tugas anak.

Perilaku seperti itu akan menjadi contoh bagi anak. Ke depannya mereka akan menganggap berterima kasih bukan hal yang penting, sehingga mereka tidak merasa perlu membiasakan diri untuk melakukannya kepada orang lain.

Melarang Mempermalukan Orang Lain, tetapi Menghukum Anak di Depan Umum

Mempermalukan orang lain atas sebuah kesalahan yang dilakukannya sama sekali bukan contoh sikap sopan santun. Mempermalukan orang lain merupakan bagian dari perundungan dan pembunuhan karakter. Karena itu para orang tua sudah mengingatkan anak agar tidak melakukan hal tersebut pada siapa pun.

Sayangnya, sebagian orang tua masih ada yang menghukum anak di depan umum ketika mereka melakukan kesalahan — bahkan mempermalukan atau merendahkan anak sendiri dengan melabeli mereka menggunakan sebutan-sebutan buruk dan merendahkan.

Mendidik Tanpa Memberikan Rasa Aman

Konsep mendidik yang baik bukanlah untuk menimbulkan rasa takut, melainkan kepatuhan yang dibarengi dengan rasa tanggung jawab. Memberikan sanksi boleh-boleh saja sebagai efek jera, namun tetap harus terukur dan relevan dengan kondisi serta kesalahan yang dilakukan.

Mendidik dengan berbagai ancaman bukan cerminan yang baik untuk membuat anak memahami arti sopan santun. Yang akan timbul hanyalah rasa takut, tertekan, dan tidak nyaman. Perasaan-perasaan negatif itu lambat laun akan terakumulasi dan mengakibatkan tumbuhnya sikap berontak ketika anak merasa sudah cukup besar — perlawanan yang mereka jadikan sebagai upaya pembebasan dari rasa takut yang lama terpendam.

Refleksi: Orang Tua sebagai Cermin Pertama Anak

Begitulah beberapa contoh kegagalan dalam cara mengajarkan anak sopan santun. Dalam hal ini orang tua adalah tokoh sentral bagi anak dalam proses pembentukan karakter — baik karakter yang baik maupun yang buruk. Maka penting kiranya orang tua rajin mengoreksi diri agar dapat menjadi teladan yang nyata bagi anak.

Pembentukan karakter yang baik pada anak adalah proses panjang yang mencakup banyak aspek — dari kepercayaan diri, kemandirian, hingga kemampuan bersosialisasi. Untuk panduan mendidik karakter anak secara lebih menyeluruh, baca juga artikel kami tentang cara mendidik anak agar percaya diri sejak dini dan cara mendidik anak mandiri tanpa rasa bersalah.

FAQ: Pertanyaan Seputar Mengajarkan Sopan Santun pada Anak

Pada usia berapa anak sudah bisa diajarkan sopan santun?

Pengenalan nilai-nilai sopan santun dasar dapat dimulai sejak usia 2 hingga 3 tahun — usia di mana anak sudah mulai memahami instruksi sederhana dan mulai meniru perilaku orang di sekitarnya. Pada usia ini, orang tua bisa mulai membiasakan kata-kata seperti “terima kasih”, “tolong”, dan “maaf” dalam percakapan sehari-hari. Yang paling penting adalah konsistensi dan keteladanan, bukan ceramah panjang yang belum bisa dipahami anak di usia dini.

Bagaimana cara merespons dengan tepat ketika anak berperilaku tidak sopan di depan umum?

Hindari langsung memarahi atau mempermalukan anak di depan orang lain — ini justru kontraproduktif dan bisa menimbulkan trauma. Cara yang lebih efektif: beri sinyal halus seperti tatapan atau sentuhan ringan di bahu sebagai tanda peringatan; jika perlu, ajak anak ke tempat yang lebih sepi untuk berbicara dengan tenang tentang perilakunya. Diskusikan kesalahannya di rumah dengan suasana yang nyaman, jelaskan mengapa perilaku tersebut tidak tepat, dan berikan contoh cara yang benar.

Apakah wajar jika anak yang sudah diajarkan sopan santun tetap berperilaku tidak sopan di luar rumah?

Sangat wajar. Anak-anak menggunakan perilaku yang berbeda di konteks yang berbeda — ini disebut “kode perilaku kontekstual” dan merupakan bagian normal dari perkembangan sosial. Anak mungkin sudah menginternalisasi nilai-nilai di rumah, tetapi masih membutuhkan waktu untuk menerapkannya secara konsisten di luar. Konsistensi keteladanan orang tua dan pengulangan yang sabar dari waktu ke waktu adalah kunci utamanya.

Bagaimana jika anggota keluarga lain (kakek, nenek, paman, bibi) memberikan contoh perilaku yang bertentangan dengan yang diajarkan orang tua?

Ini adalah tantangan yang sangat umum. Cara mengatasinya: komunikasikan secara baik-baik kepada anggota keluarga tentang nilai-nilai yang sedang ditanamkan pada anak dan minta dukungan mereka untuk konsisten. Jika ada perilaku yang bertentangan yang anak saksikan, gunakan momen tersebut sebagai kesempatan belajar — jelaskan kepada anak dengan tenang bahwa setiap orang masih dalam proses belajar, dan di keluarga kita ada cara tertentu yang kita sepakati bersama.


Ditinjau dan diperbarui oleh Tim Akademik Tunas Iblam pada 24 April 2026. Artikel ini disusun sebagai bahan refleksi bagi orang tua dalam mengevaluasi pendekatan mereka dalam mengajarkan nilai-nilai sopan santun dan budi pekerti kepada anak, sebagai bagian dari komitmen Yayasan Tunas Iblam terhadap pendidikan karakter anak yang holistik.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *